HUBUGAN EKONOMI KREATIF DALAM
PEREKONOMIAN INDONESIA
(PENJUALAN BAWANG GORENG PEDAS)
PENDAHULUAN
Perekonomian Indonesia saat ini sangat optimis
pertumbuhan ekonomi yang meningkat.dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional
yang semakin meningkat kita dapat melihat perkembangan dan kemajuan kita pada
negara lain. dengan pendapatan nasional per tahun indonesia mampu memberikan
kemajuan. Ekonomi makro yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi saat
ini. Salah satu pertumbuhan ekonomi itu dapat dilihat dengan permintaan
domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi
UNIA kini tengah memasuki era industri gelombang keempat,
yaitu industri ekonomi kreatif (creative economic industry),
usaha industri ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi industri masa
depan sebagai fourth wave industry (industri
gelombang keempat), yang menekankan pada gagasan dan ide kreatif, hal ini
bukan tanpa alasan, mengingat industri ekonomi kreatif telah mampu mengikat
pasar dunia dengan jutaan kreativitas dan persepsi yang dapat dijual secara
global.
ISI
Ekonomi
Kreatif merupakan sebuah
konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan
kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai
faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Tempat-tempat dan kota-kota
yang mampu menciptakan produk-produk baru inovatif dan tercepat akan menjadi pemenang
di era ekonomi kreatif Mengingat peran ekonomi kreatif yang semakin
meningkat bagi perekonomian suatu wilayah, utamanya terhadap pengembangan
ekonomi berbasis UMKM, maka tidaklah berlebihan bila semakin banyak kota
yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tombak dan katalisator
pengembangan ekonomi daerahnya, Untuk menjadi pemenang di tengah
persaingan yang semakin ketat, menurut Florida (The Rise of Creative Class),
kota-kota, daerah, dan provinsi harus lebih menumbuhkan "iklim orang-orang."
Yang dimotori oleh kaum muda, dengan semangat inovasi dan
kreatifitas, mampu berperan layaknya Midas Touch, memoles
sesuatu yang “biasa”
menjadi “luar biasa.
Melalui
sarana budaya kewirausahaan sebagai sarana untuk mengembangkan subsektor yang tersedia,
diperlukan jiwa-jiwa wirausaha dalam mewujudkan perkembangannya. Sikap yang
sebaiknya ditanamkan yakni prinsip MAKE UP. Sudah menjadi tabiat sekelompok
orang terutama kaum wanita menggunakan make up untuk merawat wajah dan anggota
tubuhnya agar terlihat memukau. Para produsen pun berkejar-kejaran mengeluarkan
produk tersebut demi memenuhi demand (permintaan) konsumen yang
mengiming-imingi janji kualitas dan kuantitas yang menggiurkan bagi
produsen. Namun, make up disini bukanlah alat kosmetik kecantikan yang ada pada
umumnya. Melainkan MAKE UP yakni Mandiri, Antisipatif, Kreatif, Energik, menuju
Produktif. Prinsip MAKE UP inilah yang di harapkan dapat menampilkan wajah
bintang kewirausahaan yang gemilang.
Mandiri + Antisipatif + Kreatif + Energik = Produktif -> Visi Wirausaha
Dari struktur tersebut, budaya kewirausahaan di bentuk dengan sikap kemandirian. Mandiri membangun pribadi hidup yang lebih baik. Mencari penghasilan dan keuntungan agar tidak menjadi benalu bagi orang lain. Demikian juga suatu negara, sebaiknya tidak terlalu bergantung dengan negara lain. Meskipun hubungan internasional, baik yang berhubungan dengan kerjasama bilateral, multilateral, regional, maupun kerjasama antar regional yang di anggap sangat penting oleh para aliran liberalis, yang berpeluang mendapatkan keuntungan dari kolaborasi tersebut.Ide-ide kreatif kemudian di tuangkan dalam suatu wirausaha, yang nantinya menyuguhkan produk-produk berkualitas, mempunyai daya saing tinggi serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa negara. Adanya sarana wirausaha berbasis kreatifitas, memberikan peluang besar bagi masyarakat dalam mengembangkan kreasi-kreasi mereka. Terlebih talenta yang mereka miliki, berpotensi melahirkan karya-karya andalan yang mempunyai nilai jual dan bermanfaat bagi orang lain.
Siapa
sangka bawang goreng bisa menjadi makanan favorit yang banyak pengemarnya.
Berkat camilan bawang goreng inilah Dewi Rahmaniati sukses dalam bisnis
kuliner. Meski sampai saat ini ia masih terkaget-kaget dengan dengan keuntungan
bisnisnya, namun nyatanya ia selalu memperoleh keuntungan dari bisnisnya
tersebut. Sampai saat ini ia bisa menjual 500 sampai 800 toples bawang goreng
dalam sebulan dengan omset 6-10 juta rupiah. Awal kreatifitasnyanya
menekuni bisnis camilan bawang goreng ini berawal dari kesukaan suaminya dengan
bawang goreng. Setelah mencoba membuat sendiri camilan bawang goreng ternyata
banyak yang menyatakan rasanya enak termasuk suaminya. Produk camilan bawang goreng Bapeda
dikemas dalam toples 120 gram, yang tersedia dalam empat varian rasa, yaitu
original, original teri, pedas, dan teri pedas. Kini bisnis bawang goreng
Bapeda sudah memiliki sekitar 50 orang reseller yang tersebar di Bandung,
Jakarta, Surabaya, Malang, Bogor, Batam, Palembang, dan Sumatera Utara. Bahkan
produk bapeda sudah sampai Malaysia, Singapura, Dubai, Kuwait, dan California.
Suatu
inspirasi tak akan berfaedah ,tanpa adanya aplikasi. Energik dengan daya
kerja, sangat di butuhkan dalam rangka merealisasikannya. Kekuatan yang kuat
disertai semangat yang tinggi merupakan kunci keberhasilan terbesar dibanding
hanya sekedar berinspirasi atau berteori.
Esensi dari visi budaya kewirausahaan, yakni budaya yang berpotensi menghasilkan produk-produk berkualitas, berkuantitas tinggi, dan pastinya dapat bermanfaat. Produk-produk kreatif yang berasal dari orang-orang kreatif mampu mengantarkan citra positif dan identitas bangsa tak lagimemudar.
Suksesnya kewirausahaan, tak sesukses tanpa adanya pengaruh yang besar pada perekonomian negara. Namun, keidealan ini bukan berarti setiap usaha mutlak memberikan konstribusi yang di harapkan. Pada kenyataannya, banyak faktor-faktor penghalang yang mendominasi suatu usaha. Dengan prinsip MAKE UP, setidaknya bisa ditananamkan pada generasi penerus bangsa, terutama pada perspektif sebagian orang yang menganggap dunia bisnis terdengar extreme di telinga mereka.
Esensi dari visi budaya kewirausahaan, yakni budaya yang berpotensi menghasilkan produk-produk berkualitas, berkuantitas tinggi, dan pastinya dapat bermanfaat. Produk-produk kreatif yang berasal dari orang-orang kreatif mampu mengantarkan citra positif dan identitas bangsa tak lagimemudar.
Suksesnya kewirausahaan, tak sesukses tanpa adanya pengaruh yang besar pada perekonomian negara. Namun, keidealan ini bukan berarti setiap usaha mutlak memberikan konstribusi yang di harapkan. Pada kenyataannya, banyak faktor-faktor penghalang yang mendominasi suatu usaha. Dengan prinsip MAKE UP, setidaknya bisa ditananamkan pada generasi penerus bangsa, terutama pada perspektif sebagian orang yang menganggap dunia bisnis terdengar extreme di telinga mereka.
Dunia bisnis tidaklah mengenal usia, siapapun bisa menyentuhnya dan berpenghasilan menakjubkan hanya dengan modal keberanian dan tekad yang kuat. Sebut saja Bunda Dewi Rahmaniati yang telah dijelaskan tadi.
PENUTUP
Itu salah satu contoh dari banyaknya
usaha-usaha kecil yang yang indentik dengan
dunia kreatif, perlu ditransformasikan menjadikan kekuatan ekonomi
baru, bagi peningkatan daya saing dan nilai tambah ekonomi
sehingga dapat berkonstribusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat
sebagaimana cita-cita didirikannya suatu negara. Kebijakan
ekonomi kreatif diharapkan dapat memfasilitasi, memotivasi dan menginspirasi
pengembangan ekonomi kreatif dalam bentuk rencana aksi yang kongkrit dan
terukur, dengan menjadikan ekonomi kreatif sebagai bisnis masa depan yang
menjanjikan, memfasilitasi promosi dan mengintensifkan bantuan modal usaha,
kalangan bisnis diharapkan dapat mengoptimalkan self development, mengembangkan
kapasitas usaha melalui sistem lokomotif – gerbong, dari pengusaha besar ke
pengusaha kecil, dan tak kalah pentingnya adalah dukungan cendikiawan melalui
pengembangan penetrasi pasar dengan pemanfaatanonline marketing, disamping berbagai terobosan
lain, berpikir out of the box, menciptakan linkage atau
konektivitas ekonomi kreatif dengan pariwisata, sebagai venue untuk
proses produksi, distribusi sekaligus pemasarannya.
http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/dewi-rahmaniati-kreasikan-bawang-goreng-jadi-bapeda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar