Jumat, 19 April 2013

Tugas 1 : HUBUGAN EKONOMI KREATIF DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA (PENJUALAN BAWANG GORENG PEDAS)


HUBUGAN EKONOMI KREATIF DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA (PENJUALAN BAWANG GORENG PEDAS)




PENDAHULUAN
            Perekonomian Indonesia saat ini sangat optimis pertumbuhan ekonomi yang meningkat.dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional yang semakin meningkat kita dapat melihat perkembangan dan kemajuan kita pada negara lain. dengan pendapatan nasional per tahun indonesia mampu memberikan kemajuan. Ekonomi makro yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi saat ini. Salah satu pertumbuhan ekonomi itu dapat dilihat dengan permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian.  Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi
            UNIA kini tengah memasuki era industri gelombang keempat, yaitu industri ekonomi kreatif (creative economic industry),  usaha industri ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi industri masa depan sebagai  fourth wave industry (industri gelombang keempat),  yang menekankan pada gagasan dan ide kreatif, hal ini bukan tanpa alasan, mengingat industri ekonomi kreatif telah mampu mengikat pasar dunia dengan jutaan kreativitas dan persepsi yang dapat dijual secara global.
ISI
            Ekonomi Kreatif  merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Tempat-tempat dan  kota-kota yang mampu menciptakan produk-produk baru inovatif dan tercepat akan menjadi pemenang di era ekonomi kreatif Mengingat  peran ekonomi kreatif yang semakin meningkat bagi perekonomian suatu wilayah, utamanya terhadap pengembangan ekonomi berbasis UMKM, maka tidaklah berlebihan bila  semakin banyak kota yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tombak  dan katalisator pengembangan ekonomi daerahnya,   Untuk menjadi pemenang di tengah persaingan yang semakin ketat, menurut Florida (The Rise of Creative Class), kota-kota, daerah, dan provinsi harus lebih menumbuhkan "iklim orang-orang." Yang dimotori  oleh kaum muda, dengan  semangat inovasi dan kreatifitas, mampu berperan layaknya   Midas Touch,   memoles sesuatu yang “biasa”  menjadi “luar biasa.
Melalui sarana budaya kewirausahaan sebagai sarana untuk mengembangkan subsektor yang tersedia, diperlukan jiwa-jiwa wirausaha dalam mewujudkan perkembangannya. Sikap yang sebaiknya ditanamkan yakni prinsip MAKE UP. Sudah menjadi tabiat sekelompok orang terutama kaum wanita menggunakan make up untuk merawat wajah dan anggota tubuhnya agar terlihat memukau. Para produsen pun berkejar-kejaran mengeluarkan produk tersebut demi memenuhi demand (permintaan) konsumen yang mengiming-imingi janji  kualitas dan kuantitas yang menggiurkan bagi produsen. Namun, make up disini bukanlah alat kosmetik kecantikan yang ada pada umumnya. Melainkan MAKE UP yakni Mandiri, Antisipatif, Kreatif, Energik, menuju Produktif. Prinsip MAKE UP inilah yang di harapkan dapat menampilkan wajah bintang kewirausahaan yang gemilang.

    Mandiri   +   Antisipatif   +  Kreatif   +  Energik   =   Produktif   -> Visi Wirausaha

   Dari struktur tersebut, budaya kewirausahaan di bentuk dengan sikap kemandirian. Mandiri membangun pribadi hidup yang lebih baik. Mencari penghasilan dan keuntungan agar tidak menjadi benalu bagi orang lain. Demikian juga suatu negara, sebaiknya tidak terlalu bergantung dengan negara lain. Meskipun hubungan internasional, baik yang berhubungan dengan kerjasama bilateral, multilateral, regional, maupun kerjasama antar regional yang di anggap sangat penting oleh para aliran liberalis, yang berpeluang mendapatkan keuntungan dari kolaborasi tersebut
.Ide-ide kreatif kemudian di tuangkan dalam suatu wirausaha, yang nantinya menyuguhkan produk-produk berkualitas, mempunyai daya saing tinggi serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa negara. Adanya sarana wirausaha berbasis kreatifitas, memberikan peluang besar bagi masyarakat dalam mengembangkan kreasi-kreasi mereka. Terlebih talenta yang mereka miliki, berpotensi melahirkan karya-karya andalan yang mempunyai nilai jual dan bermanfaat bagi orang lain.
            Siapa sangka bawang goreng bisa menjadi makanan favorit yang banyak pengemarnya. Berkat camilan bawang goreng inilah Dewi Rahmaniati sukses dalam bisnis kuliner. Meski sampai saat ini ia masih terkaget-kaget dengan dengan keuntungan bisnisnya, namun nyatanya ia selalu memperoleh keuntungan dari bisnisnya tersebut. Sampai saat ini ia bisa menjual 500 sampai 800 toples bawang goreng dalam sebulan dengan omset 6-10 juta rupiah. Awal kreatifitasnyanya menekuni bisnis camilan bawang goreng ini berawal dari kesukaan suaminya dengan bawang goreng. Setelah mencoba membuat sendiri camilan bawang goreng ternyata banyak yang menyatakan rasanya enak termasuk suaminya. Produk camilan bawang goreng Bapeda dikemas dalam toples 120 gram, yang tersedia dalam empat varian rasa, yaitu original, original teri, pedas, dan teri pedas. Kini bisnis bawang goreng Bapeda sudah memiliki sekitar 50 orang reseller yang tersebar di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Bogor, Batam, Palembang, dan Sumatera Utara. Bahkan produk bapeda sudah sampai Malaysia, Singapura, Dubai, Kuwait, dan California.
            Suatu inspirasi tak akan berfaedah ,tanpa adanya aplikasi. Energik  dengan daya kerja, sangat di butuhkan dalam rangka merealisasikannya. Kekuatan yang kuat disertai semangat yang tinggi merupakan kunci keberhasilan terbesar dibanding hanya sekedar berinspirasi atau berteori.
Esensi dari visi budaya kewirausahaan, yakni budaya yang berpotensi menghasilkan produk-produk berkualitas, berkuantitas tinggi, dan pastinya dapat bermanfaat. Produk-produk kreatif yang berasal dari orang-orang kreatif mampu mengantarkan citra positif dan identitas bangsa tak lagimemudar.
            Suksesnya kewirausahaan, tak sesukses tanpa adanya pengaruh yang besar pada perekonomian negara. Namun, keidealan ini bukan berarti setiap usaha  mutlak memberikan konstribusi yang di harapkan. Pada kenyataannya, banyak faktor-faktor penghalang  yang mendominasi suatu usaha. Dengan prinsip MAKE UP, setidaknya bisa ditananamkan pada generasi penerus bangsa, terutama pada perspektif sebagian orang yang menganggap dunia bisnis terdengar extreme di telinga mereka.

            Dunia bisnis tidaklah mengenal usia, siapapun bisa menyentuhnya dan berpenghasilan menakjubkan hanya dengan modal keberanian dan tekad yang kuat. Sebut saja Bunda Dewi Rahmaniati yang telah dijelaskan tadi.
           

PENUTUP
            Itu salah satu contoh dari banyaknya usaha-usaha kecil yang yang indentik dengan  dunia kreatif, perlu ditransformasikan menjadikan kekuatan  ekonomi baru,   bagi peningkatan  daya saing dan nilai tambah ekonomi sehingga  dapat berkonstribusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sebagaimana cita-cita didirikannya suatu negara. Kebijakan ekonomi kreatif diharapkan dapat memfasilitasi, memotivasi dan menginspirasi pengembangan ekonomi kreatif dalam bentuk rencana aksi yang kongkrit dan terukur, dengan menjadikan ekonomi kreatif sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan, memfasilitasi promosi dan mengintensifkan bantuan modal usaha, kalangan bisnis diharapkan dapat mengoptimalkan self development, mengembangkan kapasitas usaha melalui sistem lokomotif – gerbong, dari pengusaha besar ke pengusaha kecil, dan tak kalah pentingnya adalah dukungan cendikiawan melalui pengembangan penetrasi pasar dengan pemanfaatanonline marketing, disamping berbagai terobosan lain, berpikir out of the box,  menciptakan  linkage atau konektivitas ekonomi kreatif dengan pariwisata,  sebagai venue untuk proses produksi, distribusi sekaligus pemasarannya.

http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/dewi-rahmaniati-kreasikan-bawang-goreng-jadi-bapeda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar